20 April 2005

Yogyakarta: Setelah 22 tahun... (Bahgian 01)

Setelah 22 tahun, akhirnya saya sampai juga ke Yogya. Sudah tentulah banyak perubahan yang terjadi. Bangunan-bangunan baru di Jalan Solo dan Malioboro bertambah. Dulu di Malioboro ada Hotel Mutiara, sebuah hotel mewah yang merupakan mercu tanda jalan tersebut. Tapi sekarang gedung-gedung membeli belah yang baru menjadi mercu tanda yang baru pula. Ada jalan-jalan baru. Ada terminal baru yang cantik dan lebih teratur di Giwang menggantikan terminal Umbuharjo. Di depan Rumah Sakit (Hospital) Bethesda, dulu ada Bioskop (pawagam) President, kini tiada lagi dan diganti dengan Mall Galeria. Tak jauh dari situ di pertigaan Jalan Solo, dulu ada bioskop Rahayu, sekarang tidak kelihatan lagi. Mungkin orang tidak menonton bioskop lagi kerana banyak hiburan lain. Dulu, satu-satunya hiburan yang murah adalah bioskop. Di depan stasiun kereta api Tugu dulu ada restoran Padang 'Wienna', kini pun lesap. Toko Gunung Agung di simpang empat Tugu juga hilang dan muncul toko Buku Gramedia di simpang empat Jl. Kaliurang -- Kota Baru.

Yogya terkenal dengan julukan 'kota pelajar' dan 'kota budaya'. Kini pelajar semakin bertambah, motosikal menggantikan basikal (sepeda). Asap pun bertambah membuat udara Yogya tercemar (polusi). Yang jelas kedatangan pelajar di Yogya menambah penghasilan penduduk di sekitar kampus-kampus di sini. Mereka menyewakan bilik-bilik kepada pelajar.

Pagi tadi saya ke rumah sakit Dr Sardjito, tempat pelajar-pelajar perubatan Fakulti Kedokteran, Universitas Gadjahmada, menjalani latihan. Ada beberapa orang pelajar dari Malaysia, ada India ada Melayu. Ada dua program di Fakulti Kedokteran, UGM. Pertama program setempat dan kedua, program international.
Catat Ulasan